Entri yang Diunggulkan

In Memoriam : Dra.Hj.Sri Aslichah, Srikandi Aisyiyah Kecamatan Kalibagor, Banyumas (02)

Dalam diri Bu Hajjah Sri Aslichah, memang mengalir darah Muhammadiyah dari ayahnya, Bapak Kaswan Abusoli. Ayahnya pada waktu muda adal...

Jumat, 18 Januari 2019

In Memoriam : Dra.Hj.Sri Aslichah, Srikandi Aisyiyah Kecamatan Kalibagor, Banyumas (02)



Dalam diri Bu Hajjah Sri Aslichah, memang mengalir darah Muhammadiyah dari ayahnya, Bapak Kaswan Abusoli. Ayahnya pada waktu muda adalah aktivis Pandu HW dan Pemuda Muhammadiyah. Pada tahun 1964 ikut merintis berdirinya Cabang Mahammadiyah Kalibagor yang dipimpin Bapak Sodari dan Bapak Bari. Ayanya tamatan Ambaschool Jaman Hindia Belanda, terakhir menjabat Kepala Bagian Besalen Pabrik Gula Kalibagor, dengan Pangkat Masinis IV. Ayah Bu Hajjah orang Banyumas asli, sekalipun leluhurnya dari pihak ayah, berasal dari daerah Pekajangan, Pekalongan. Darah Aisyiyah mengalir dari Ibunya, Mustiratun yang berasal dari Kanggotan, Wonokromo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Ibunya, seorang guru TK Aisyiyah Bustanul Alfal, alumnus Kweekschool Muhammadiyah Kauman, Yogyakarta.

Bu Hajjah Dra. Sri Aslichah lahir pada tahun 1953, anak ke tiga dari 6 bersaudara. Bakatnya dalam literasi sudah tampak sejak berusia 5 tahun. Ibunya yang tahu bakatnya, membimbingnya sendiri dengan calistung (membaca, menulis, dan berhitung). Buku Kembang Setaman yang banyak memuat ceritera lucu dan menarik, dijadikan panduan. Maka sebelum masuk Sekolah Dasar Kalibagor 1, Bu Hajjah kecil sudah bisa membaca, menulis dan berhitung. Sekolah Dasar diselesaikannya tepat waktu, dan dia  termasuk salah satu bintang klas. Untuk memupuk bakatnya dalam literasi, Ibunya menyediakan majalah kanak-kanak Taman Putra, dalam bahasa Jawa. Ada juga majalah Penyebar Semangat dan Mekarsari, juga dalam bahasa Jawa. Ibunya juga menyewakan komik karya RA.Kosasih dan Oerip,  yakni komik Mahabarata dan Ramayana dari Penyewa Komik Jaffar, di Sokaraja Tengah. Itulah sebabnya, setelah tamat SD, walaupun anak perempuan, Bu Hajjah pun paham dan tahu kisah-kisah dalam pewayangan. Majalah Suara Muhammadiyah, menjadi bacaan wajibnya, terutama rubik kisah para Sahabat Nabi saw.

Walapun NEMnya tinggi saat tamat SD, tetapi dia gagal masuk SMP Negeri 1 di Purwokerto. Akhirnya SMP Gunungjati di Jalan Pesayangan Purwokerto yang saat itu merupakan SMP Swasta Favorit, menjadi pilihannya. Cita-citanya setelah tamat SMP, sebenarnya ingin jadi Asisten Apoteker. Karena itu, Ibunya mengirimkannya ke Yogya untuk tes masuk di SAA (Sekolah Asisten Apotiker) Yogyakarta. SAA saat itu merupakan sekolah kejuruan tingkat atas dengan lama pendidikan 4 tahun, dan ada dibawah naungan Departemen Kesehatan. Tetapi kembali cita-citanya gagal. Akhirnya dia masuk SMA N 2 Purwokerto, SMA Favorit di Purwokerto. Gelar Sarjana Biologi diraihnya dari Fakultas Biologi Universitas Jendral Sudirman Purwokerto.

Ada karya tulis Bu Hajjah Dra.Sri Aslichah  yang tidak banyak diketahui publik.  Karya itu masih berupa manuskrip ditulis dengan mesin ketik, 23 halaman, dengan satu halaman hilang. Judulnya, ”Sejarah Pembantaian 27 Prajurit Divisi Siliwangi.” Karya itu selesai ditulis pada tanggal 1 Februari 1988. Isinya menceriterakan tewasnya 27  Prajurit Siliwangi di Desa Suro pada hari Selasa Kliwon, pukul 9.00 pagi, tanggal 28 Desember 1948 dalam pertempuran yang tidak seimbang melawan penyergapan tentara Belanda yang memburu dan menghalangi perjalan Long March Pasukan Siliwangi kembali ke Jawa Barat.

Mereka semunya berjumlah 82 orang, tiba di Desa Suro pada Senin Wage dini hari pukul 3.00, bertepatan dengan tanggal 27 Desember 1948. Setelah beristirahat selama satu hari, tiba-tiba datang tentara Belanda yang bermarkas di PG.Kalibagor dan Pabrik Tapioka Sokaraja, untuk menyergap tentara Siliwangi yang bersiap-siap melanjutkan perjalanan Long March. Pertempuran tidak seimbang berjalan singkat, 55  orang prajurit Siliwangi lolos dari penyergapan, berhasil menyelamatkan diri, dan melanjutkan perjalanannya kembali ke Jawa Barat.

Tetapi 27 orang lainnya tewas dan gugur sebagai bunga bangsa. Ke-27 prajurit yang gugur itu, baru bisa dimakamkan oleh penduduk pada hari Rabu, 29 Desember 1948. Dua belas tahun kemudian, tahun 1960, kerangka 27 jenazah prajurit Siliwangi itu dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Tanjung Nirwana, Purwokerto. Untuk mengenang perjuangan 27 prajurit Siliwangi yang gugur di Desa Suro pada tahun 1948 itu, pada tanggal 1 Januari 1974, masyarakat Desa Suro mendirikan tugu peringatan yang bentuknya sangat sederhana ditengah-tengah perempatan jalan Desa Suro dengan tulisan,”Telah Gugur 27 Pahlawan RI Tahun 1948”

Pada peringatan Hari Pahlawan 10 Nopember 1987, Forum Komunikasi Karang Taruna Kecamatan Kalibagor, membentuk Panitya Napak Tilas Perjuangan Siliwangi Kecamatan Kalibagor, dengan mengambil rute Kalibagor-Suro-Pekaja. Ibu Hajjah Dra. Sri Aslichah saat itu ikut berpartisipasi dalam kegiatan Napak Tilas Rute Perjuangan Siliwangi di Kecamatan Kalibagor, mewakili organisasi wanita remaja Muhammadiyah Kecamatan Kalibagor, yakni Nasiyatul  Aisyiyah (NA). Kegitan napak tilas yang digelar pada tanggal 15 Nopember 1987 itu sukses, dan melahirkan ide baru untuk membangun monumen relief perjuangan 27 prajurit Siliwangi di Desa Suro yang lebih representatif, karena tugu peringatan yang didirikan pada tanggal 1 Januari 1974, dipandang kurang menggambarkan semangat dan nilai-nilai perjuangan yang hendak di wariskan kepada generasi muda, khususnya generasi muda Desa Suro dan Kecamatan Kalibagor.

Akhirnya pada tanggal 20  Desember 1987, terbentuk sebuah Panitya Pembuatan Relief Pembantaian Pejuang Siliwangi. Panitya dipimpin langsung oleh Dan Koramil 08 Kecamatan Kalibagor, Pelda Mardi, sebagai Ketua I. Ketua II, Kepala Desa Suro, Supar Yusak. Panitya yang lain adalah, (1) Sekretaris 1-Tarman, Kaur Kesra Kecamatan Kalibagor, (2) Sekretaris 2- Dra. Sri Aslichah, (3) Bendahara – Serka Kasmidi, anggota Koramil 8 Kecamatan Kalibagor, (4) Teknisi Pelaksana, Sukirno-Kepala PU Sokaraja, Serda Sobirin, dan Koptu Sudarno dari Koramil 08 Kalibagor. (5) Usaha Dana, Marjono-Ketua Pemuda Pancamarga Kecamatan Kaalibagor, Ansor Susilo Bsc – Karyawan Staf Pabrik Gula Kalibagor, dan Serka Karman dari Koramil 08 Kalibagor.(6) Humas, Sertu Sukur dan Endon, Ketua KNPI Kecamatan Kalibagor.

Rupanya manuskrip itu disusun dalam kedudukan Ibu Hajjah Dra. Sri Aslichah sebagai Sekretaris Panitya Pembuatan Relief Pembantaian Pejuang Siliwangi di Desa Suro. Akhirnya Panitya berhasil mempersembahkan monumen sejarah perjuangan Siliwangi di Desa Suro, dengan menghabiskan dana sekitar Rp.1.422.500,- (Nilai harga tahun 1987 ). Monumen pengganti tugu peringatan itu, kini masih berdiri di perempatan jalan Desa Suro, tidak jauh dari Kantor Kepala Desa. Dan jalan yang menghubungkan monumen tersebut, melintang ke barat sekitar 5 kilometer sampai tiba di Jalan Raya Sokaraja-Kalibagor-Banyumas, diberi nama Jalan Siliwangi.


Yang unik, manuskrip itu disusun menggunakan metode ilmiyah dan historiografi sejarah modern, antara lain dengan melakuka wawancara terhadap saksi-saksi yang masih hidup, serta dokumen tertulis masih mentah milik Dinas Kebuduyaan Kecamatan Kalibagor. Karena itu validitasnya dapat dipertanggung jawabkan, dan bisa menjadi rujukan untuk melengkapi Sejarah Long March Pasukan Siliwangi yang sudah banyak dipublikasikan dan telah menjadi bagian dari Sejarah Nasional.

Masih menjadi misteri yang belum terungkap, bukan hanya nama-nama 27 Prajurit Siliwangi yang gugur di Desa Suro pada hari Selasa Kliwon, tanggal 28 Desember 1948. Tetapi juga komandan peleton yang memimpin 82 prajurit Siliwagi yang tiba di Desa Suro. Jika dilihat jumlah pasukan yang tiba di Desa Suro dari Desa Somakaton setelah menyeberangi Sungai Serayu dengan getek, kemungkinan besar ke-82 prajurit Siliwangi itu merupakan satu peleton bagian dari beberapa Kompi Prajurit Letkol Daan Yahya yang sedang melaksanakan perintah Panglima Besar Jendral Sudirman. Mereka melakukan Long March kembali ke Jawa Barat, setelah hampir satu tahun hijrah ke Yogyakarta yang saat itu merupakan Ibu Kota Republik Indonesia.

Dalam sejarah perjuangan bangsa, Long March Siliwangi merupakan salah satu peristiwa paling heroik khususnya bagi Tentara Nasional Indonesia. Long March Siliwangi adalah peristiwa pindahnya pasukan Siliwangi dari Yogyakarta dan sekitar Jawa Tengah yang bergerak kembali ke Jawa Barat pada minggu  ketiga Desember 1948 - Februari 1949. Sejarahnya bermula ketika pada tanggal 17 Januari 1948 pemerintah Republik dan Belanda menyepakati sebuah perjanjian di atas Kapal Renville di Teluk Jakarta. Isi perjanjian itu  antara lain, Jawa Barat diserahkan pada Belanda. Sebagai konsekuensinya, pasukan Divisi Siliwangi harus meninggalkan Jawa Barat dan pindah ke Yogyakarta. Saat itu, Yogyakarta adalah Ibukota Republik Indonesia. Saat berada di Yogya, pasukan Siliwangi sempat ikut serta memadamkan pemberontakan PKI Muso atau yang lebih dikenal dengan peristiwa Madiun 1948. Setelah bertempur melawan pasukan Muso, seharusnya prajurit-prajurit Siliwangi kembali ke Yogya dan Jawa Tengah untuk bergabung dalam kantung-kantung perlawanan TNI yang sedang bergerilya menghadapi Belanda dan terbagi dalam beberapa kesatuan Wehkreise.

Tetapi pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II dan menguasai Yogyakarta.  Panglima Besar Jendral Sudirman segera mengeluarkan perintah yang dikenal dengan Perintah Siasat No. 1, agar pasukan Siliwangi kembali ke Jawa Barat untuk kemudian bergabung dengan pasukan lainnya dan melakukan perlawanan. Sejak itu, pasukan Siliwangi yang terdiri dari beberapa kompi dibawah pimpinan Letnan Kolonel Daan Yahya segera bergerak kembali ke Jawa Barat. Pasukan Divisi Siliwangi ini juga membawa serta seluruh anggota keluarganya dan berjalan kaki selama kurang lebih dua bulan lamanya. Sebuah perjalanan yang tentunya banyak menghadapi mara-bahaya, dengan melintasi gunung, hutan, lembah, jurang dan juga sungai yang penuh tantangan. Tak hanya ancaman binatang buas, di belakang dan di depan mereka juga ada pasukan Belanda dari Batalyon Infanteri-V KNIL atau yang dikenal dengan sebutan Anjing Nica yang terus membuntuti, meghadang, dan menghalang-halangi gerakan Long March Pasukan Siliwangi.

Pasukan Belanda yang mengikuti iring-iringan prajurit Siliwangi terus mengintimidasi dan melakukan penyerangan. Pada suatu malam, pasukan Siliwangi dan pasukan Belanda yang membututi sempat berpapasan hingga pecahlah sebuah pertempuran di malam yang gelap. Dalam pertempuran itu tak ada korban jiwa, tetapi Letkol Daan Yahya berghasil ditangkap Belanda. Akibatnya, pasukan Long March Siliwangi tercerai berai, dan kehilangan pemimpin induk pasukan. Tetapi dibawah komandan peletonnya masing-masing, tetap bersemangat dan pantang menyerah, mereka terus melanjutkan Long March ke Jawa Barat. Satu peleton serpihan anak buah Letkol Daan Yahya itulah rupanya yang tiba di Desa Suro pada hari Senin Wage Tanggal 27 Desember 1948. Mereka adalah salah satu peleton yang terpisah dari induk pasukannya.

Sejarah juga mencatat, beberapa kali, dan di berbagai tempat sempat masih terjadi  pertempuran sengit yang melibatkan kelompok-kelompok pasukan Siliwangi yang terus melanjutkan Long March dengan tentara Belanda. Antara lain yang tercatat dalam sejarah adalah pertempuran di perbatasan Sumedang, Tanjungsiang, Sumedang, dan Ciasem. Tetapi pertempuran di Desa Suro dengan korban 27 Prajurit Long March Siliwangi itu, masih luput dan belum tercatat dalam Sejarah Nasional. Karena itu, manuskrip karya historiogafi Bu Hajjah Dra.Sri Aslichah perlu ditindak lanjuti oleh instansi dan dinas terkait, agar tercatat dalam Sejarah Long March Prajurit Siliwangi yang telah menjadi bagian dari Sejarah Nasional Bangsa Indonesia.

Pada bulan Januari 2018, Bu Hajjah Dra.Sri Aslichah, tergolek lemah di Lantai-5 Pavilyun Indraprasta Rumah Sakit Prof.Dr.Sarjito, Yogyakarta. Dr.Eko dengan anak buahnya yang merawatnya, memvonis Bu Hajjah menderita penyakit paru-paru basah atau pleuritis dengan tumor jinak. Setelah dilakukan operasi pengambilan cairan di paru-paru, Bu Hajjah diijinkan pulang dan menjalani perawatan jalan di RSU Banyumas. Hasinya, dinyatakan sembuh, tetapi pengobatan untuk pemulihan kesehatan masih terus jalan, dan disarankan untuk mengurangi aktivitasnya yang berlebihan.  Pada bulan Juni, Bu Hajjah sudah mulai aktiv kembali mengajar dan keliling memberikan ceramah dalam sejumlah pengajian.

Tetapi ketika sedang memimpin acara manasik haji di Kecamatan Kalibagor, tiba-tiba dadanya merasa sesak dan harus dilarikan ke rumah sakit Banyumas. Akhirnya pada minggu ke tiga bulan Oktober 2018, Bu Hajjah di rujuk kembali ke Rumah Sakit Prof.Dr.Sarjito Yogyakarta, menginap di Pavilyun Cederawasih, dan kembali ditangani Dr.Eko dan anak buahnya. Ternyata pleuritis paru-parunya kembali kambuh, dan tumor jinak di paru-parunya telah bermuasi menjadi kanker dengan stadium empat. Dr.Eko menjelaskan dalam diagnosanya, mutasi itu terjadi, disamping terpicu oleh aktivitas, juga terpicu oleh polusi udara di daerah Banyumas, antara lain polusi timbal yang keluar dari asap kendaraan bermotor dan asap pabrik berbahan bakar fosil. Solusi pengobatan hanya ada dua, yakni dengan obat racikan dan kemo. Ternyata kemo akhirnya menjadi pilihan. Tetapi ketika operasi kemo akan dilaksanakan di RSU Margono Purwokerto, pada Hari Kamis siang pukul 11.00 WIB, tanggal 3 Januari, Allah swt telah memanggil Bu Hajjah Dra. Sri Aslichah untuk menghadap kehadiratNya. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.


Jenazah alhmarhumah dimakamkan di Pemakaman Umum Jengkonang, diiringi para takziah yang terdiri dari para keluarga, kerabat, aparat desa dan kecamatan, rekan-rekan kerja dan seperjuangan dari SMP-SMA Muhammadiyah Sokaraja, UMP Purwokerto, Pengurus Cabang  Aisyiyah dan Muhammadiyah Kecamatan Kalibagor dan Sokaraja, serta Pengurus Wilayah Muhammadiyah Purwokerto. Almarhumah wafat pada usia 65 tahun, dengan meninggalkan seorang putri dan 4 orang cucu, dan sejumlah anak asuh. Dalam akun FB nya, Rus Wanto mengenang kepergian Ibu Hajjah Dra. Sri Aslichah, dengan membuat posting tulisan sbb,

“Innalillahi wa innalillahi roji'un.Selamat jalan Bu Dra.Sri Aslichah (Bu As),semoga tenang & damai di sisi ALLAH SWT. Semoga Engkau berada di Surganya Allah SWT. Terimakasih banyak telah membantu saya selama ini. Kebaikanmu tak kan pernah tergantikan oleh apapun.Kau selalu mengajarkanku tentang kesederhanaan hidup. Allah sayang Bu As.Semoga Bu As diberi tempat terbaik di Surganya Allah SWT. Amin.Walau ragamu terpendam,namun pancaran kebaikanmu tersimpan di lubuk kalbu hatiku.Allah SWT bersamamu,Allah sayang Bu As. Selamat jalan Bu As. Semoga tenang di alam sana. RIP Bu Hajjah Sri Aslichah. (Rus Wanto )”
Allahumma Aamiin. ( anwar hadja, Kalibagor, 13 Januari 2019 )

In Memoriam : Dra.Hj.Sri Aslichah, Srikandi Aisyiyah Kecamatan Kalibagor, Banyumas (01)



Teman-temannya sering memanggilnya Mbak As, murid-muridnya memanggilnya Bu As. Tetapi sejak dia menunaikan ibadah haji pada tahun 2015, murid-muridnya, rekan-rekan seperjuangannya,  teman-teman di lingkungan kerjanya, dan para tetangganya, memanggilnya dengan panggilan Bu Hajjah.

Rekan seperjuangannya dalam Persyarikatan Muhammadiyah Kecamatan Kalibagor, H.Asep Saiful Anwar, SP, MM, meyebut sepak terjang Bu Hajjah Sri Aslichah dalam mengembangkan dakwah Islam di Kecamatan Kalibagor lewat organisasi wanita Aisyiyah sebagai perjungan luar biasa dan  tak kenal lelah. “Beliau telah mengontrakkan dirinya dengan menjadi karyawati Allah swt, sehingga sepanjang hidupnya diabdikan untuk kegiatan dakwah,” tuturnya.


Ibu Siswadi, mantan Istri Kepala Desa Kalibagor (1967 – 1978), masih bisa mengenang dengan baik aktivitas Bu As saat masih muda. Dia mengaku saat menjadi Istri Kepala Desa Kalbagor, sangat terbantu dalam mengendalikan kegiatan PKK Desa Kalibagor, khususnya pada tahun 1975 – 1978. Hampir setiap ada kegiatan PKK, Bu As selalu mendampingi Bu Siswadi. Hubungannya kekeluargaan terus berlanjut sekalipun suami Bu Siswadi telah berhenti jadi Kepala Desa Kalibagor. Bahkan keduanya naik haji pada tahun yang sama, bertiga dengan adik Bu Siswadi.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Kalibagor, Bapak Sugino, seorang budayawan, seniman, ahli bahasa Jawa, dan pendiri Padepokan dan Yasasan Papan Mas (Paguyuban Panotocoro Gagrag Banyumas), mengingatkan bahwa masih ada cita-cita Bu As yang belum terwujud, yakni mendirikan Balai Pengobatan Aisyiyah di Kecamatan Kalibagor.

“Kalau dilihat dari aktivitas dan perjungan yang tak kenal lelah, Bu As adalah seorang Srikandi, yaitu tokoh dalam pewayangan yang merupakan satu-satunya Senapati wanita Pandawa dalam perang Bharatayudha. Srikandi berhasil mengalahkan Senapati Bisma yang sebelumnya tak terkalahkan,” kata Bapak Sugino sambil tersenyum mengingatkan sosok Srikandi dalam kisah wayang.

Bisa jadi pendapat Bapak Sugino ada benarnya. Bu Hajjah Dra.Sri Aslichah, adalah Srikandi Aisyiyah Kecamatan Kalibagor. Bersama-sama dengan Bu Hajjah Asep dan Bu Hajjah Agus, memang menjadi pengendali aktivitas organisasi Aisyiyah Kecamatan Kalibagor. Banyak kegiatan yang bersifat perintisan tidak lepas dari sentuhan tangan dingin Bu Hajjah Dra.Sri Aslichah dan teman-temannya. Misalnya, merintis pembangunan sejumlah mushola di Grumbul Genting, Songgom, dan Desa Suro. Merintis TK Aisyiyah di Desa Pajerukan Kidul. Yang unik, adalah didirikannya kegiatan pengajian ibu-ibu Majelis Takmir Ar Rahman. Kegiatan Pengajian Ar Rahman ini merupakan kolaborasi antara warna NU dan warga Muhammadiyah Kecamatan Kalibagor.

Komunitas NU memang merupakan mayoritas di Kecamatan Kalibagor, tetapi dalam soal SDM, organisasi Muhammadiyah dan Aisyiyah, tidak pernah kekurangan aktivis, karena mereka banyak yang berpendidikan S1, bahkan S2. Aktivitas rutin Kelompok Pengajian Ar Rahman adalah pengajian surat Yassin yang digemari kalangan Nahdiyin, dengan istilah Yasinan. Sebagai kompensasi, Bu Hajjah menetapkan, sebelum pembacaan Surat Yassin, diadakan ceramah, semacam kultum. Tetapi pemberi ceramah harus orang atau tokoh Muhammadiyah. Dengan terobosan semacam itu, secara rutin seminggu sekali Ibu-Ibu dengan latar belakang NU dan Muhammadiyah, bahkan Ibu-Ibu dengan latar belakang Nasionalis, mau sama-sama duduk bersama-sama membaca surat Yassin, setelah sebelumnya diawali dengan siraman rohani berupa ceramah keagamaan dari tokoh-tokoh Muhammadiyah. Bu Hajjah juga suskses membawa rombongan Kelompok Pengajian Majelis Takmir Ar Rahman dengan satu bus wisata menghadiri pengajian pagi di stasiun TV-Indosiar yang dipandu Mamah Dedeh.  

Kolaborasi antara NU dan Muhammadiyah yang dirintis Bu Hajjah dan kawan-kawannya berlanjut dengan mendorong kerjasama antara BANSER dan KOKAM Kecamatan Kalibagor. Misalnya, pada bulan Ramadhan, kedua organisasi kepemudaan itu, sama-sama mendirikan Posko Lebaran, untuk membantu para pemudik istirahat sejenak, setelah menempuh perjalanan jauh dari tempat mereka merantau di Jakarta, Bandung, bahkan dari luar Jawa, yang hendak mudik dengan motor maupun mobil pribadi menuju kampung halaman mereka. Kebetulan Kantor Cabang Muhammadiyah dan Aisiyah Kecamatan Kalibagor, terletak di pinggir jalan utama Purwokerto-Sokaraja-Banyumas, yang dilewati kendaraan umum menuju Jogya, Wonosobo, Semarang, Solo, Madiun, Surabaya dan kota-kota lainnya di Jawa Timur. Posko Lebaran, beroperasi 24 jam, selama lima hari sebelum lebaran dan lima hari sesudahnya. Tenda Posko dan sejumlah fasilitas seperti air minum gratis, disediakan sejumlah agen kendaraan bermotor seperti Honda, Toyota, Suzuki, Yamaha, dan lainnya lagi.

Sebagai aktivis Aisyiyah, Bu Hajjah sadar betul untuk menghayati dan mengamalkan kandungan Surat Al Ma’un, Surat ke- 107 dalam Kitab Suci Al Qur’an, yang isinya sbb :
(1)   Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? (2) Itulah orang yang menghardik anak yatim, (3) Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, (4) Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (5) Yaitu orang-rang yang lalai dari shalatnya, (6) Orang-orang yang berbuat riya, (7) Dan enggan menolong dengan barang yang berguna.
Surat Al Ma’un merupakan surat yang bersejarah bagi Persyarikatan Muhammadiyah. Sebab surat itulah yang mengilhami, memotivasi, dan menginspirasi KH. Ahmad Dahlan dan Istrinya, Siti Walidah untuk mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah (1912), kemudian juga Aisyiyah (1917 ).


Rupanya riwayat jejak perjuangan KH.Ahmad Dahlan dan Istrinya, Nyai Siti Walidah Ahmad Dahlan, sangat mempengaruhi Bu Hajjah Dra.Sri Aslichah. Ini bisa dilihat dari perhatian Bu Hajjah yang besar pada orang tua yang miskin, jompo, anak-anak yatim, dan anak-anak kaum dhuafa. Jika tahu ada tetangganya yang sudah berusia lanjut, jompo, dan miskin, Bu Hajjah tidak segan-segan untuk mengirim jatah makan siang ke rumah orang itu. Kadang-kadang menyuruh orang, tetapi lebih sering mengirimnya sendiri jika pas tak ada kesibukan.

Jauh sebelum pemerintah meluncurkan program sekolah gratis, bea siswa, dan bidik misi, Bu Hajjah Dra.Sri Aslichah telah banyak memperjuangkan sekolah gratis bagi anak-anak kaum dhufa, khususnya dari Desa Suro yang saat itu merupakan desa tertinggal di Kecamatan Kalibagor. Banyak pula anak-anak kaum dhuafa yang dijadikan anak asuh, diperjuangkan mendapatkan bea siswa, dan dibiayai dari uang sakunya sendiri. Beberapa anak asuhnya, antara lain, Sum, Sur, dan Rus Wanto. Sum, anak Desa Suro, menjadi anak asuh Bu Hajjah, tinggal di rumah Bu Hajjah, dan berhasil menyelesaikan pendidikannya di SMP Muhammadiyah Sokaraja dan Madrasah Aliyah Negeri Purwokerto. Selesai sekolah, Sum melanjutkan bekerja ke Malaysia selama 6 tahun, akhirnya pulang kembali ke desanya, Desa Suro, menikah, setelah berhasil mengumpulkan tabungan hasil merantau untuk membeli sejumlah bidang ladang dan ternak sapi.  

Anak asuhnya lainnya lagi yang juga sukses adalah Sur. Dia anak orang dhuafa dari Desa Pajerukan Kidul. Tinggal di rumah Bu Hajjah, berhasil menyelesaikan pendidikannya di SMP Muhammadiyah Sokaraja, SMA Muhammadiyah Sokaraja, dan STAIN Purwokerto jurusan Tarbiyah Pendidikan agama Islam. Tahun 2017, berhasil diwisuda dengan menyandang gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam. Sekarang menjadi tenaga pengajar di almamaternya, SMP Muhammadiyah Sokaraja. Yang unik dari anak asuh Bu Hajjah yang satu ini, menyelesaikan studinya di SMP,SMA, sampai kuliah, dengan naik sepeda dari Kalibagor-Sokaraja-Purwokerto. Bahkan sekalipun sekarang sudah diangkat jadi Ibu Guru di SMP Muhammadiyah Sokaraja, dia masih setia dengan sepeda yang dibelikan Bu Hajjah Dra. Sri Aslichah.

Rus Wanto adalah seorang remaja dari Desa Dukuh Waluh yang menyelesaikan studinya di SMA Muhammadiyah Sokaraja. Bu Hajjah membantu sebagian biaya kuliah di Akademi Maritim Nusantara Cilacap, dan pada tahun 2018, berhasil diwisuda dengan gelar Ahli Madya Maritim. Sambil kuliah, Ruswanto ditarik Bu Hajjah Dra. Sri Aslichah menjadi pembinan Pramuka di SMA Muhammadiyah Sokaraja.


Sebenarnya, Bu Hajjah juga tercatat sebagai salah seorang perintis pendirian SMP Muhammadiyah Sokaraja pada tahun 1975, bersama-sama Pak Sutarman, BA, Pak Umar, Pak Jalal dan lainnya lagi. Waktu itu Bu Hajjah masih kuliah di Fakultas Biologi Universitas Jendral Sudirman Purwokerto. Tetapi diajak Pak Sutarman, BA, Kepala SMP Muhammadiyah Sokaraja, untuk menjadi salah seorang tenaga pengajar. Pada tahun 1978, SK Ijin Operasional SMP Muhammadiyah turun, dan mulai menghasilkan lulusan angkatan pertama. Sejak itu SMP Muhammadiyah Sokaraja dan SMA Muhmmadiyah Sokaraja, menjadi ladang pengabdian Bu Hajjah Dra. Sri Aslichah di dunia pendidikan yang terus digelutinya sebagai seorang Pendidik, dengan Sertifikat Pendidik Profesional dari Pemerintah. Sertifikat Pendidik Profesional, diperolehnya melalui Penilaian Portfolio, dan langsung dinyatakan lulus. Namun demikian untuk menambah tingkat kompetensinya sebagai Pendidik Profesinal, Bu Hajjah mengikuti Kuliah Lanjutan, dan berhasil mendapatkan Akta Mengajar dari Universitas Negeri Yogyakarta.(bersambung)



Jumat, 07 September 2018

Mekkah dan Ka'bah, Kembali Dikuasai Keturunan Ismail


Salah satu keturunan Bani Ismail yang kuat adalah Suku Quraisy. Sekitar tahun 400 SM, seorang pemimpin Quraiys yang bernama Qushai, berhasil menikahi putri Hulayl, Kepala Bani Khuzaah yang menguasi Mekkah dan Ka’bah. Qushai cukup cekatan dan cerdas, sehingga sangat disayangi melebihi anaknya sendiri. Bahkan ketika akan meninggal, dia berwasiat agar Qushay menggantikanya sebagai penguasa Mekkah dan Ka’bah.

Begitu memegang kekuasaan, Qushay yang cerdas itu segera mengundang saudara-saudaranya, sepupunya, bahkan paman-pamannya untuk bermukim di Mekkah dekat rumah suci Ka’bah. Mereka antara lain Zuhroh, saudaranya, Taym, pamannya, dan Makhzum, sepupunya. Mereka kemudian dikenal sebagai Qurasy Lembah. Saudara-saudara jauh lainnya ditempatkan di pinggiran Kota Mekkah, dan mereka di kenal sebagai Quraisy Pingiran. Yang jelas suku Qurays telah menjadi kelompak mayoritas, baik di ring satu, maupun ring dua yang tinggal di Lembah Mekkah. Lama kelamaan Bani Khuzaah, tersingkir secara damai dan alamiyah.

Qushay pun menjadi penguasa Mekkah yang kuat, hidup berkelimpahan, dan memerintah bagaikan seorang raja. Penduduk membayar Qushay dengan domba, sehingga Qushay dapat menydiakan makanan bagi para jamaah haji yang tidak mampu. Qushay juga memerintahkan agar saudara-saudaranya membangun rumah-rumah permen disekitar Ka’bah, untuk mengganti tenda-tanda yang sebelumnya dipakai sebagai tempat tinggal.Qushay sendiri membangun rumah tinggalnya sendiri yang mgah dan luas, yang dikenal sebagai Istana Majelis. Tetapi Qushay sendiri menamainya dengan sebutan Rumah Majelis. Sebab dari situ Qushay sering memimpin rapat mengendalikan pemerintahan, serta tempat bermusyawarah dengan rakyatnya.

Tetapi perpecahan muncul bukan dari kalangan oposisi. Tetapi dari keturunan Qushay sendiri. Dia mempunyai empat anak laki-laki. Tetapi yang paling cakap dan berbakat adalah si bungsu Abdu al Manaf. Dia sangat dihormati orang pada saat Qushay masih hidup. Tetapi Qushay sendiri cenderung memilih putra sulungnya, Abdu al Dar, sekalipun kalah populer dan kurang cakap dibanding Abdu al Manaf. Menjelang meninggalnya Qushay berwasiat kepada anak-anaknya, “Anakku, aku akan menetapkan siapa di antara kalian yang akan menjadi penggantiku yang harus ditaati oleh semua orang. Tidak ada yang dapat memasuki Ka’bah, kecuali engkau yang membukakannya. Selain tanganmu tak ada yang boleh menandai peperangan bagi kaum Quraisy. Tak ada yang boleh minum air di Mekkah dalam perjalanan haji, kecuali engkau yang memberinya. Tak ada yang boleh makan kecuali engkau yang memberinya. Tak ada yang boleh mengubah urusan Quraisy, kecuali di dalam rumahmu.” Ketika meninggal Qushay mewariskan seluruh kekuasaannya kepada putra kesayangannya tersebut, termasuk kepemilikan Rumah Majelis. 

Abdu al Manaf, mematuhi keputusan ayahnya itu tanpa protes sedikit pun. Akan tetapi gugatan mulai muncul pada generasi berikutnya. Separuh kaum Quraisy brdiri sepenuhnya dibelakang Hasyim, putra sulung Abdu al Manaf. Dia menuntut agar kekuasaan atas Mekkah dan Ka’bah dialihkan dari clan Abdu al Darkepada clan Abdu al Manaf. Hasyim mendapat dukungan penuh dari Bani Zuhroh, Bani Tyaim, dan seluruh anak cucu Qushay selain dari Abdu al Dar. Tetapi keturunan Makzum dan para sepupu yang jauh berdiri di belakang Bani Abdu al Dar.

Kemudian kaum wanita dari Bani Abdu al Manaf membawa secawan minyak wangi dan meletakkannya di dekat Ka’bah.Hasym dan saudara-saudaranya serta seluruh pendukungnya mencelupkan tangan mereka ke dalam cawan itu dan mengangkat sumpah bersama untuk tidak saling mengganggu satu sama lain. Masing-masing orang menggosokkan tangannya yang harus ke batu Ka’bah sebagai tanda tercapainya kesepakatan. Kelompok Bani Hasyim ini kemudian terkenal sebagai Kelompok Al Muthayyibun, artinya Kelompok Harum. Sementara itu, Bani Abdu al Dar dengan sekutunya juga membentuk kelompok tandingan yang kemudian dikenal sebagai Kelompok Al Ahlaf, artinya Kelompok Sekutu.

Situasi genting dan memanas nyaris hampir meledak menjadi peperangan. Tetapi perang dilarang, bukan hanya di sekitar Ka’bah. Tetapi juga beberapa mil dari Ka’bah. Kedua pihak harus bersedia menegakkan perjanjian damai, agar peperangan dapat dihindarkan. Akhirnya tercapailah kesepakatan. Kekuasaan atas Mekah dan Ka’bah pun dibagi dua. Disepakati Bani Abdu al Manaf berhak menetapkan pajak dan menyediakan makanan dan minuman bagi para jemaah haji. Bani Abdu al Dar, berhak memegang kunci Ka’bah dan hak-hak mereka yang lain. Tempat tinggal Qushay harus dilanjutkan fungsinya sebagai Rumah Majelis.

Saudara-saudara Hasyim pun setuju bahwa Hasyimlah yang bertanggung jawab atas kebutuhan jemaah haji. Maka ketika musyim haji tiba, Haasyim berpidato dari Rumah Majelis. “Wahai Kaum Qurays! Kamu sekalian adalah tetangga Tuhan, penjaga RumahNya dan Tanah Suci. Mereka yang datang berziarah adalah tamu Tuhan dan pengunjung rumahNya. Merekalah itulah para tamu yang paling patut dihormati. Pada musim haji, sediakanlah makanan dan minuman sampai mereka pulang kembali. Bila harta saya sendiri mencukupi, saya tidak akan membenani kalian mereka semua!”

Hasyim sangat dihormati di dalam negeri maupun di luar negeri. Hasyimlah yang membangun dan memperluas jaringa jalan dari Mekah ke Yaman dan dari Makah ke Syria. Pada musim dingin para kafilah menuju Yaman, dan pada musim panas para kafilah menuju Barat Laut Jazirah Arabia. Diantara ke dua musim itu banyak kafilah yang menuju Syria dan Palestina. Kedua rute itu mengikuti jalur kuno minyak wangi. Salah satu destinati musim panas yang menyenangkan adalah Kota Yatsrib yang subur, kurang lebih sebelas hari perjalanan dengan unta ke utara Mekkah. Dulu oasis Yastrib dikuasai orang Yahudi. Tetapi lama kelamaan dikuasai orang dari Arab Selatan. Masih banyak orang Yahudi yang bermukim di sana dengan kekayaan melimpah. Mereka tetap aktif terlibat dalam urusan sosial kemasyarakatan dengan tetap menjalankan agama Yahudi.

Suku Arab Yatsrib termasuk suku yang unik. Mereka menganut tradisi matriarchat, dan secara kolektif dikenal sebagai Bani Qaylah. Dari Bani Qaylah lahir dua keturunannya, yakni suku Aws dan Khasraj, yang merujuk pada dua putra Qaylah. Salah seorang wanita Bani Kazraj yang sangat berpengaruh adalah Salma, putri Amr dari suku Najr. Hasyim pun jatuh cinta pada Salma dan melamarnya. Salma bersedia menjadi istri Hasyim asal diijinkan tetap tinggal di Yatsrib untuk memimpin sukunya, dan enggan dibawa pindah ke Mekkah. Hasyim pun setuju, dan menikahlah dia dengan Salma. Dari pernikahan itu, lahirlah putra Hasyim itu besar dalam asuhan ibunya sampai kira-kira berusia 14 tahun. Hasyim sendiri karena sering bepergian ke Palestina, dengan sendirinya sering mengunjungi, dan dapat tinggal cukup lama dengan Salma dan putranya.

Hasyim malah senang putranya dibesarkan di daerah tropis, agar terhindar dari sejumlah penyakit berbahaya yang lebih sering meyerang pendatang dari pada penduduk asli. Lagi pula penduduk daerah tropis lebih kuat dari pada penduduk Mekkah. Sayang Hasyim tidak bisa hidup lama untuk terus menyaksikan putranya yang disayanginya itu. Dalam suatu perjalanan ke Gaza, Hasyim jatuh sakit. Dia pun meninggal di sana.[]

Bani Jurhum Pernah Menimbun Sumur Zamzam


Allah swt mengabulkan doa Nabi Ibrahim as. Ketika Ibrahim mengunjungi Mekkah yang kedua kalinya untuk menengok Ismail dan Hajar, Lembah Mekkah telah berkembang menjadi sebuah pemukiman yang ramai. Adalah suku pengembara Bani Jurhum yang berasal dari Yaman, pertama kali menemukan Hajar seorang diri hanya ditemani Ismail yang saat itu masih bayi, tinggal dekat sumur Zamzam.

Bani Jurhum telah meninggalkan Yaman karena Yaman terkena bencana alam besar yang menyebabkan penduduknya kelaparan, sehingga terpakasa sebagian besar mereka keluar dari Yaman untuk mencari tempat bermukim  baru. Bani Jurhum adalah salah satu di antara mereka yang merantau ke utara. Sampai di tanah Hejaz, persedian air yang mereka bawa habis, sehingga mereka nyaris mati karena kehausan. Untunglah tiba-tiba mereka melihat segerombolan burung elang yang sedang berputar-putar di angkasa. Sebagai suku pengembara yang berpengalaman, mereka tahu, dimana ada burung elang berputar-putar, pastilah di bawahnya ada sumber mata air. Di tuntun oleh burung elang itulah, Bani Jurhum akhirnya menemukan telaga Zamzam dengan airnya yang jernih di tengah lembah Mekkah yang saat itu hanya ditunggui oleh Hajar dan bayinya.

Bani Jurhum yang kemudian bermukim di situ sangat memuliakan Hajar. Pada mulanya mereka mengira Hajar adalah wanita suci utusan penguasa langit untuk menunggui sumur Zamzam sambil membesarkan bayinya, Ismail. Tetapi Hajar berterus terang kepada Kepala Suku Bani Jurhum, siapa dirinya dan menceriterakan riwayat dirinya sampai  tinggal seorang diri bersama bayinya di lembah yang sunyi sepi tanpa penghuni itu. Pengakuan Hajar yang terus terang, tidak mengurangi rasa hormat Bani Jurhum kepada Hajar dan Ismail yang diakui sebagai pemilik sumur Zamzam.

Merekalah yang membangunkan rumah, memberikan makanan, mengasuh Ismail, bahkan memberikan sejumlah binatang ternak. Pemukim baru di lembah Mekkah terus berdatangan. Para kafilah yang hilir mudik menyusuri jalan parfum di pantai barat Semenanjung Arabia, pasti singgah sejenak untuk mengambil air Zamzam. Tidak lupa mereka memberikan macam-macam hadiah aneka macam barang dan uang pada Hajar dan Ismail. Ketika Ibrahim datang yang kedua kali untuk menengoknya, Hajar dan Ismail sudah hidup berkelimpahan, memiliki rumah bagus, dan memiliki banyak binatang ternak. Saat itu Ismail sudah berusia sekitar 12 tahun. Dan pada kunjungan ke dua itu itulah Ibrahim bertemu Hajar dan Ismail yang tengah berada di Padang Arafah. Ketika Ayah, Istri dan anak sedang melepas rindu karena telah lama berpisah itulah datang ujian dari Allah swt, agar Ibrahim mengorbankan Ismail. Ibrahim, Ismail dan Hajar, lulus dari ujian ketakwaan yang datang dari Allah swt. Pada kunjungan ke tiga, Ibrahim dan Ismail mendapat perintah untuk membangun Ka’bah, dan mengajarkan tata cara menjalankan ritual Ibadah Haji dan Umroh. Ibadah Haji dilaksanakan sekali setahun, sedangkan ibadah Umroh dapat dilaksanakan kapan saja.

Sejak itu tiap tahun pada bulan Zulhijah, Lembah Mekkah semarak didatangi para peziarah dari berbagai penjuru jazirah Arabia untuk melaksakan ritual Ibadah Haji yang diajarkan Ibrahim dan Ismail. Tidak ada catan sejarah yang menyebutkan bahwa Ishak, putra kedua Ibrahim sempat mengunjungi Ka’bah. Tetapi kaum Yahudi keturunan Ishak tercatat ada yang melakukan ziarah mengunjungi Ka’bah yang didirikan olel Ibrahim, yang juga merupakan leluhur mereka. Tetapi kunjungan ziarah orang-orang Yahudi terhenti, setelah anak keturunan Ismail, seiring dengan perjalanan waktu, telah melakukan penyelewengan ritual Ibadah Haji yang diajarkan nenek moyang mereka. Mereka mulai menempatkan berhala-berhala di dalam Ka’bah.

Ismail menikah dengan putri Kepala Suku Bani Jurhum. Sepeninggal Ismail, anak keturunanya terus berkembang memenuhi Lembah Mekkah, sehingga lembah yang subur itu menjadi terasa sempit. Maka mereka mulai merantau ke segala penjuru Arabia meninggalkan Lembah Mekkah sambil membawa batu  yang ada di sekitar Ka’bah. Ditempat baru, mereka menyelenggarakan ritual untuk memuliakan batu dari tanah suci itu. Kemudian karena terpengaruh oleh tradisi dan adat istiadat kaum pagan tetangga mereka, berhala pun mulai ditambahkan ke dalam batu-batu itu. Akhirnya para jema’ah haji mulai membawa berhala-berhala itu ke Mekkah dan meletakkannya di sekitar Ka’bah.
Kaum penyembah berhala mengklaim bahwa berhala hanyalah digunakan sebagai perantara, penghubung, atau wasilah manusia dengan Tuhan. Tetapi akibatnya pendekatan mereka kepada Tuhan menjadi berkurang dan tidak langsung. Tuhan menjadi sangat jauh, dan kaum pagan itu melupakan dari mana dunia ini berasal, akhirnya mereka tidak lagi meyakini kehidupa setelah kematian. Akhirnya Allah swt pun mendatangkan azab. Tanda-tandanya mulai tampak dengan menyusutnya air sumur Zamsam sedikit demi sedikit. Lebih-lebih setelah Bani Jurhum mengambil alih kekuasaan atas Lembah Mekkah dan Ka’bah dari keturunan Ismail. Keturunan Ismail tidak berani melawan, sebab bagaimana pun juga, Bani Jurhum adalah kerabat dekat mereka, sebab Istri Ismail berasal dari Bani Jurhum.  

Ketika Bani Jurhum menjadi penguasa, mereka melakukan kesewenang-wenangan, hidup berfoya-foya dengan mengambil  harta kekayaan yang tersimpan di Ka’bah yang mereka ambil sedikit demi sedikit. Bani Jurham bahkan mengajarkan ritual tawaf tanpa busana pada malam hari. Dalihnya, manusia ketika dilahirkan dalam keadaan tanpa busana. Jadi, manusia yang suci ialah manusia yang tidak memakai busana seperti ketika dia dilahirkan. Ka’bah adalah tempat suci, maka cara bertawaf yang benar pun harus dilakukan dalam keadaan suci alias tanpa busana seperti ketika dia dilahirkan ke dunia.

Sekalipun tawaf dilakukan dalam keadaan tanpa busana, para peziarah dilarang keras melakukan hubungan badan. Alkisah, pernah terjadi ada pasangan yang tertangkap basah sedang melakukan hubungan badan di sekitar Ka’bah. Keduanya langsung ditangkap dan dibunuh. Sebagai peringatan kepada para peziarah agar jangan melanggar perbuatan yang terlarang itu, dibangunlah dua patung di kanan dan kiri sumur Zamzam. Kedua patung itu dikenal sebagai patung Isaf dan Nailah. Lama kelamaan ceretera tentang Isaf dan Nailah berkembang kisah legenda, yaitu bahwa Isaf dan Naila adalah leluhur Bani Jurhum yang telah melakukan dosa besar di sekitar Ka’bah, sehingga dikutuk menjadi dua buah patung batu.

Akibatnya dari kesewenang-wenangan dan penyimpangan Bani Jurhum, maka mereka akhirnya terusir dari Mekkah. Tetapi sebelum pergi, mereka sempat menimbun sumur Zamsam yang mulai mengering. Sebelumnya dimasukkan ke dalam sumur itu berbagai harta benda sumbangan jamaah haji yang terkumpul di Ka’bah, hingga terkubur di dasar sumur Zamzam.  Merka lakukan itu semua dengan harapan, suatu saat jika mereka berhasil kembali lagi menjadi penguasa Mekkah, harta yang ditibunnya itu akan mereka gali kembali.

Posisi Bani Jurhum sebagai penguasa Mekkah, telah diambil alih oleh Bani Khuzaah. Mereka adalah salah satu suku Arab keturunan Ismail yang telah lama merantau ke Yaman. Setelah lama bermukim, kemudian mereka bermigrasi kembali ke tanah Hejaz kembali. Setelah berhasil mengusir Bani Jurhum, Bani Khuzaah pun menjadi penguasa baru Kota Mekkah dan Ka’bah. Tetapi Bani Khuzaah pun melakukan kesalahan yang sama. Mereka tidak berusaha menemukan sumber air yang telah dianugerahkan kepada leluhurnya itu. Mereka telah cukup puas dengan menggali sendiri sumur-sumur di tempat lain.

Dalam urusan Ibdah, mereka memang pantas untuk dihujat, karena melupakan ajaran leluhur mereka, Ibrahim dan Ismail. Salah seorang kepala suku Bani Khuzaah dalam perjalanan pulang dari Syria, telah meminta kepada kaum penyembah berhala Moabit, untuk memberikan salah satu berhala mereka yang menarik hati. Mereka memberikan satu berhala mereka yang namanya Hubal. Dengan suka cita, Kepala Suku Bani Khuzaah itu, menempatkan berhala Hubal di dalam Ka’bah. Dia dinobatkan menjadi pemimpin besar berhala lain di Mekkah.[]