Entri yang Diunggulkan

In Memoriam : Dra.Hj.Sri Aslichah, Srikandi Aisyiyah Kecamatan Kalibagor, Banyumas (02)

Dalam diri Bu Hajjah Sri Aslichah, memang mengalir darah Muhammadiyah dari ayahnya, Bapak Kaswan Abusoli. Ayahnya pada waktu muda adal...

Jumat, 29 Januari 2016

Sejarah Awal Kota Banyumas (04)


(Jembatan Kereta Api Purwokerto - Kroya, melintasi Sungai Serayu, Notog-Kebasen, Di seberang sana Pegunungan Serayu. Gambar di unduh dari FB seorang sahabat)

Sang Senna


Siapakah Senna? Senna adalah tokoh yang sama sekali tidak dikenal dalam tradisi Jawa dan tradisi Banyumas. Tetapi dikenal dengan baik dalam tradisi Sunda Galuh Kawali. 

Purbasora dan keturunannya sering mengejek Senna sebagai anak salah. Senna adalah anak hasil perselingkuhan Mandiminyak, Putra Mahkota Kerajaan Galuh Kawali dengan Pohacci Rababu, istri Dahyang Sampakwaja, kakak Mandi Minyak. Benarkah?

Pohacci Rababu dilukiskan sebagai gadis cantik jelita yang dimitoskan sebagai keturunan bidadari. Gelar Pohacci menunjukkan bahwa Rababu adalah wanita dari klas ningrat dan istimewa. Dia juga mendapat julukan Bunga Mangale-Ale. Tentu saja banyak ksatria yang mendambakannya. Apalagi ada mitos, Rababu Bunga Mangale-Ale adalah wanita yang ditakdirkan akan menurunkan raja-raja besar. Sebuah mitos dalam Hinduisme yang dipercaya orang Sunda dan Orang Jawa. Dalam sejarah Majapahit dikenal tokoh Ken Dedes, sebagai wanita nariswari, yakni wanita utama yang dimitoskan akan bisa menurunkan para raja di tanah Jawa.

Kisah Ken Dedes, Wanita Nariswari.

Dalam kitab Pararaton yang berisi riwayat raja-raja Singosari-Majapahit, diceriterakan  kisah Ken Dedes sebagai wanita nariswari. Alkisah pada suatu ketika, Tunggul Ametung membawa Ken Dedes, istrinya yang cantik jelita hasil menculik dari sebuah padepokan milik Mpu Purwa di Panawijen, untuk bercengkerema di Taman Boboji. Tiba-tiba ketika Ken Dedes hendak turun dari kereta, kainnya tersingkap sehingga bukan hanya betisnya yang kelihatan, tetapi juga rahasia kewanitaannya yang nampak bersinar bercahaya. Ken Arok yang sempat melihatnya langsung terpesona, dan berpikir,”Wanita hebat macam apakah Ken Dedes itu?”

Selesai bertugas Ken Arok segera menemui gurunya Dahyang Loh Gawe dan bertanya,:

“Bapa dangyang, hana wong istri murub rahasyane, punapa laksananing stri lamun mangkana, yen hala rika, yen ayu rika laksanipun”/“Bapa Pendita, ada seorang wanita yang bercahaya rahasia kewanitaannya. Tanda perempuan yang bagaimanakah itu? Pertanda buruk ataukah pertanda baik?”
Dahyang Loh Gawe bertanya:

“Sapa iku kaki?”/ Siapa itu, anakku?

Jawab Ken Arok,” Wonten Bapa, wong wadon katinghalan rahsyanipun deningsun”/ Ada Bapa, seorang wanita kelihatan rahasia kewanitaannya oleh hamba

Loh Gawe menjelaskan,”Yen hana istri mangkana, iku stri nariswari arane. Adimukyaning istri iku, kaki. Yadyan wong papa angalapa ring wong wadon iku, dadi ratu anakrawati”/Jika ada perempuan seperti itu, namanya nariswari, anakku. Ia adalah wanita paling utama.Orang berdosa sekalipun jika memperisti wanita itu akan menurunkan maharaja”

Mendengar jawaban Loh Gawe, Ken Arok langsung merencanakan untuk membunuh Tunggul Ametung agar bisa memperistri Ken Dedes. Rencana Ken Arok terlaksana. Ken Arok bukan hanya berhasil membunuh Tunggul Ametung. Tapi juga berhasil menjadi Raja Singasari (1222- 1247 M),di dampingi Ken Dedes sebagai permaisuri. Ken Dedes - Ken Arok kelak meunurunkan raja-raja Majapahit. Raden Wijaya, pendiri Majapahit adalah keturunan Ken Dedes - Ken Arok.

Penjelasan Pendeta Loh Gawe kepada Ken Arok  tentang adanya wanita utama yang disebut nariswari dalam mitos Hinduisme, mendapat pembenaran. Ken Dedes memang terbukti menjadi seorang Ibu  menurunkan raja-raja Singosari dan Majapahit. 

Kisah Pohacci Rababu Bunga Mangale-Ale.

Dalam kasus Kerajaan Galuh Kawali Pohacci Rababu, adalah wanita nariswari. Itu sebabnya dia diperebutkan tiga putra-putra Maharaja Wretikandayun yaitu : (1)Sampakwaja, (2)Jantaka, dan (3) Amara. Tapi dari ketiga putra raja itu, hanya  putra ketiga, Amara yang memenuhi kesamaptaan jasmani sebagai putra mahkota.

Sampakwaja, sekalipun sulung, berhubung giginya mrongos( sampak= condong, waja = gigi), dia gugur sebagai calon putra mahkota. Jantaka, putra kedua, kecerdasannya dianggap lemah, sehingga dijuluki Sang Hyang Kedul, artinya bodohnya tidak ketulungan untuk ukuran calon raja. Mungkin agak lambat belajar. Sedangkan Amara, bukan hanya cakap, cerdas dan cekatan. Tetapi juga tampan. Pendeknya putra bungsu Maharaja Wretikandayun itu lengkap mewarisi bakat ayah dan ibunya. Wajar jika Wretikandayun menetapkan Sang Amara sebagai putra mahkota. Saudara-saudaranya yang iri menjuluki adik bungsunya itu, Mandiminyak!. Konon kulitnya kuning langsat cemerlang bercahaya sehingga mempesona setiap perempuan yang memandangnya. Itulah sebabnya Sang Amara sering dilukiskan sebagai seorang pemikat wanita. 

Dan tentu saja Pohacci Rababu yang cantik jelita itu, lebih serasi menjadi pasangan Sang Amara. Tetapi Wretikandayun menjodohkan Pocacci Rababu dengan Sampakwaja. Mungkin untuk menghibur saja, karena Sampakwaja anak sulung tetapi  tidak diberi jatah putra mahkota.. Sang Sampakwaja ditunjuk sebagai penguasa di Galunggung. Sang Jantaka, putra kedua diangkat sebagai penguasa Galuh Selatan yang mencakup Banjarsari, Padaherang, Kalipucang, dan wilayah selatan lainnya sampai Pangandaran. Sejak diangkat jadi penguasa Galuh Selatan, julukan kedul menghilang dan berubah jadi Sang Hyang Kidul. Artinya Sang Penguasa Galuh Selatan.

Sang Amara, Putra Mahkota, menurut naskah Wangsakerta, dinikahkan dengan putri Maharatu Sima dari Kerajaan Kalingga yang bernama, Dyah Ayu Parwati. Dari perkawinan ketiga putra Wretikandayun itu, lahirlah cucu-cucunya. Sang Sampakwaja punya dua putra dari Pohacci Rababu. Yaitu,(1) Purbasora, dan (2) Demunawan. Sang Jantaka punya satu anak, Bimaraksa. Sedangkan Sang Amara, dengan Dyah Ayu Parwati punya satu anak putri :Sang Dyah Ayu Sannaha. 

Ratu Sima punya beberapa putra yang tercatat namanya hanya dua, yaitu : (1) Dyah Ayu Parwati, dan (2) Bagus Nayarana. Sebelum turun tahta, Ratu Sima membagi Kerajaan Kalingga menjadi dua, yakni : (1) Kalingga Utara, diserahkan kepada Dyah Ayu Parwati, dan (2) Kalingga Selatan, diserahkan Narayana. 

Dari nama putranya itu, semakin jelas Ratu Sima adalah pemeluk Waisnawa. Memang pada jaman itu merupakan sesuatu yang  sangat unik, bahwa Mandiminyak yang penganut Syiwa mampu memperistri Dyah Ayu Parwati yang penganut Wisnu. Padahal di negeri asalnya India pertikaian antara penganut Wisnu dan Syiwa sama hebatnya dengan pertikaian Hindu vs Buddha. Rupanya di tanah Jawa, sekte-sekte agama Hindu saling mendekat. Demikian pula kelak antara Hindu dan Buddha.

Sang Senna, benarkah anak hasil perselingkuhan orang tuanya?

Benarkah Senna anak hasil selingkuh Mandiminyak dengan Pohacci Rababu? Sudah disebutkan di atas bahwa tradisi Galuh menyebutkan bahwa Senna adalah anak salah atau anak tidak sah dari Mandiminyak dengan Pohacci Rababu. Dapat dipastikan sang juru kisah, adalah kelompok Purbasora atau mereka yang punya hubungan kekerabatan dengan Purbasora.

Kisah kelahiran Senna dikisahkan sbb: Alkisah pada suatu ketika Maharaja Wretikandayun menyelenggarakan semacam pesta perjamuan utsawakrama, mungkin semacam hajatan keluarga raja. Yang jelas semua keluarga raja datang. Hanya Sampakwaja yang tidak datang karena sakit. Maka istrinya Pohacci Rababu datang sendirian. 

Dia pun bertemu dengan mantan kekasih, Amara alias Mandiminyak  yang sudah jadi adik ipar. Konon cinta antara keduanya bersemi kembali. Pocacci Rababu menginap selama empat malam di rumah mertuanya. Tapi tiap malam memadu kasih dengan Putra Mahkota Mandiminyak. Tentu saja akibatnya Rababu pun hamil. 

Sampakwaja yang mengetahui istrinya hamil dengan adiknya, tidak mengambil tindakan apa-apa. Hanya minta pada Rababu kalau kelak bayinya lahir segera serahkan pada Mandiminyak agar dia bertanggung jawab atas perbuatannya. Begitulah kata yang empunya ceritera. Lahirlah anak Rababu hasil menginap empat malam di rumah mertuanya. Bayi yang kemudian diberi nama Senna oleh Wretikandayun itu, lalu besar dalam asuhan kakeknya. Mandiminyak buru-buru dicarikan istri. Maka dinikahkanlah Mandiminyak dengan Dyah Ayu Parwati, yang menurunkan  satu putri, Dyah Ayu Sannaha. 

Kisah itu agak meragukan, mengingat perselingkuhan termasuk kategori pelanggaran berat dalam tradisi Hinduisme maupun Buddha. Hukumannya adalah potong leher. Hukum bagi pelaku perselingkuhan dalam tradisi Hinduisme, hampir sama dengan hukum bagi pelaku pezina dalam Islam, yakni hukuman rajam. Karena itu hampir mustahil Rababu berani melakukan perselingkuhan, apalagi terjadi di depan mertuanya. 

Kisah yang sebenarnya adalah antara Rababu, Sampakwaja, Jantaka dan Amara, telah tercapai semacam kesepakatan dengan Wretikandayun. Di atas disebutkan bahwa Rababu sebenarnya lebih mencintai Amara dari pada kedua kakaknya. Tapi Wretikandayun menghendaki Rababu mau menjadi istri Sampakwaja. 

Rababu tentu bukan wanita bodoh. Dia dilukiskan sebagai seorang bidadari, keturunan para Pohacci. Maka Rababu tidak menyerah begitu saja dengan kehendak Wretikandayun. Rupanya pada akhirnya tercapai kompromi, Rababu menjadi istri dari ke tiga putra Wretikandayun. Dengan kata lain, wanita nariswari ini menjalani kehidupan perkawinan poliandri, mengikuti jejak Drupati dengan ke lima Pandawa dalam Kisah Mahabharata yang merupakan salah satu kitab suci agama Hindu dan Buddha. Jadi ketika Rababu datang ke tempat mertuanya di Galuh, di samping untuk menghadiri undangan hajatan, memang untuk menemui Mandiminyak, Sang Suami ke tiganya. Suami keduanya, ya Sang Hyang Kidul itu. Itulah sebabnya Sampakwaja tidak ikut dan diberitakan sedang sakit. Kalau sakit, masa sih  istrinya malah meninggalkannya? 

 Tradisi Hinduisme kuno memang mengenal delapan corak model perkawinan, termasuk poliandri yang sampai sekarang masih dianut oleh orang-orang Tibet. Tradisi Hinduisme juga tidak melarang perkawinan antar saudara tiri beda ibu satu ayah, yang dikenal dengan perkawinan Manu. Kelak Senna yang cucu Wretikandayun dinikahkan dengan Dyah Ayu Sannaha yang  cucu Ratu Simma. Padahal Senna adalah putra Mandiminyak dengan Rababu, sedangkan Sannaha adalah putri Mandiminyak dengan Dyah Ayu Parwati, pewaris tahta Kalingga. Dari perkawinan Senna – Sannaha,  lahirlah buyut Wretikandayun dan buyut Ratu Sima, Rakean Jambri atau Rake Sanjaya yang kelak akan menjadi Maharaja Kerajaan Mataram Hindu.

 Pohacci Rababu sebagai wanita nariswari yang diperebutkan tiga ksatria Galuh putra Wretikandayun memang terbukti. Senna bukan anak selingkuh, tetapi anak sah sesuai tradisi Hindu yang berlaku pada jaman itu. Demunawan yang disebut-sebut sebagai anak Sampakwaja, kemungkinan besar adalah anak Jantaka. Demikianlah Pohacci Rababu berhasil melahirkan tiga anak laki yang kelak menjadi penguasa Galuh.

 Sayang akhirnya mereka bertikai juga memperebutkan tahta Galuh warisan Wretikandayun. Dua kali perang memperebutkan tahta galuh, para tokohnya adalah keturunan Pohacci Rababu Bunga Mangale-Ale. Perang pertama adalah perang tingkat anak Rababu, yakni Senna melawan koalisi  Purbasora dan Demunawan. Perang perebutan tahta Galuh kedua terjadi pada turunan Rababu  tingkat ke empat, yakni Rakean Banga, buyut Senna melawan Ciung Wanara, buyut Purbasora. Senna dan Purbasora sama-sama anak laki-laki Rababu, hanya beda ayah. Ayah Purbasora dan Senna pun kakak beradik.

Memang tradisi kerajaan-kerajaan dengan sistem pewarisan tahta, seringkali timbul pertikaian yang berujung pada perang saling bunuh membunuh untuk memperebutkan tahta. Dalam perang perebutan tahta Galuh, tokoh-tokoh yang terbunuh adalah Purbasora ( 716 – 723 M )  dan  Tamperan Barmawijaya ( 732 – 739 M). Purbasora terbunuh oleh Sanjaya, putra Senna dan Tamperan Barmawijaya yang putra Sanjaya, terbunuh oleh Ciung Wanara, turunan Purbasora.  Perdamaian baru terjadi antara Rakean Banga dan Ciung Wanara, yang berakhir dengan pembagian Kerajaan Galuh menjadi Galuh Barat dan Galuh Timur. Rakean Banga adalah putra Tamperan Barmawijaya.

Petualangan Senna Yang Mengagumkan.

Senna naik tahka Kerajaan Galuh Kawali pada tahun 709 M, setelah ayahnya Mandiminyak yang berusia pendek itu mangkat. Sedangkan Sang Hyang Sampakwaja dan Sang Hyang Kidul, dikarunia usia panjang. Ketika naik tahta, Senna  dalam posisi sudah punya putra Rake Sanjaya yang besar dalam asuhan nenek dan Ibunya di Kraton Kalingga. Pada jaman itu di kalangan para ksatria, kehidupan suami istri saling berjauhan, merupakan hal yang biasa. Demikian pula Senna dan Sannaha. Senna di Galuh Kawali karena menggantikan tahta ayahnya yang mangkat. Sedangkan Sannaha tetap di Kalingga, mendampingi Ibunya sebagai Penguasa Kalingga.

Tapi naiknya Senna ke tahta Galuh menggantikan ayahnya, Mandiminyak, menimbulkan rasa tidak senang Purbasora dan Demunawan, putra Rababu  dengan Sampakwaja. Menurut Purbasora urutan pewaris tahta Galuh sepeninggal Mandiminyak, seharusnya tidak dimulai dari Senna, tapi mengikuti urutan dari cucu Wretikandayun yang tertua sbb :(1) Purbasora, (2) Demunawan, (3) Bimaraksa-anak Sang Hayang Kidul, adik Sampakwaja, baru (4) Senna. 

Rupanya gugatan Purbasora direstui Sang Hyang Sampakwaja dan Sang Hyang Kidul. Purbasora selaku pimpinan koalisi untuk melengserka Senna, adik tirinya itu, melakukan persiapan selama tujuh tahun. Rencananya Galuh Kawali akan diserang dari tiga jurusan, yakni dari utara-timur-selatan. Dari utara, Purbasora siap dengan pasukannya yang bermarkas di Indraphrastha, Cirebon.  Pasukan dari utara akan diperkuat Demunawan yang siap dengan pasukan tempurnya di Kuningan. Sedang dari selatan, Bimaraksa siap pula dengan pasukannya di daerah Banjarsari. Untuk mencegah agar Senna tidak melarikan diri ke timur, Purbasora dengan Demunawan membangun basis kekuatan di Pasirbatang, lereng selatan Pegunungan Slamet. Dengan demikian front timur pasukan Purbasora di Pasirbatang telah terbentuk. Front barat, sudah ada Kadipaten Galunggung yang berada di bawah kendali Sang Hyang Sampakwaja. 

Senna yang sering bolak balik Galuh - Kalingga –besar kemungkinan melewati jalur sungai Cimnuk-Indramayu- Laut Jawa – Kalingga, tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya. Kelemahan Senna dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Purbasora. Purbasora bisa membangun basis pasukan di Indraphrastha, Gunung Cireme Cirebon, karena menjadi menantu Raja Indraphastha. Demikian pula Demunawan yang menjadi menantu Kerajaan Kuningan. Senna yang sudah tujuh tahun menduduki tahta kerajaan Galuh Kawali, baru menyadari bahaya mengancam dirinya hanya beberapa hari menjelang hari-H. Sekalipun begitu ketika pertempuran pecah, Senna mencoba bertahan di Istana Kerajaan Galuh Kawali. Tetapi karena di kepung dari empat penjuru, Senna dengan pasukannya pun semakin terjepit. Tetapi menjelang jatuh, Senna dengan prajurit pengawal yang setia, berhasil meloloskan diri dari kepungan.

Ketika Purbasora memasuki Keraton Galuh, Senna telah meninggalkan Istana. Impian Purbasora menjadi kenyataan. Dia pun naik menduduki tahta menggantikan Senna. Purbasora menduduki tahta Galuh ( 716 – 723 M) selama sembilan tahun, nyaris sama lamanya dengan masa pemerintahan Senna. Purbasora, tahu kemana Senna melarikan diri. Karena itu dia menyuruh prajurit-prajuritnya untuk mengejarnya. 

Tetapi mengejar Senna pun bukan perkara mudah. Senna, bagaimanapun juga,  mewarisi darah bidadari dari ibunya. Dari ayahnya mewarisi kecerdasan, kecakapan dan ketampanan Amara alias Mandiminyak. Senna pun tujuh tahun lamanya menduduki tahta Kerajaan Galuh. Dapat dipastikan Senna punya banyak pengikut juga, hanya kalah jumlah, karena dia tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya. 

Karena itu Senna berhasil meloloskan diri dan selamat dari maut dendam kakak tirinya dan berhasil melepaskan diri dari kepungan pasukan Purbasora. Bahkan pasukan Purbasora yang datang dari Pasirbatang, gagal menahan pelarian Senna dan pengirinya yang melarikan diri menuju Jawa Tengah. Sebab pasukan Purbasora dari Pasirbatang, datang dari arah timur laut. Dan Senna dengan cerdik melarikan diri ke arah tenggara.

 Carita Parahiyangan menyebutkan Senna melarikan diri ke Merapi-Merbabu. Ya, ngapain jauh -jauh lari ke Merapi-Merbabu? Gunung Dieng lebih dulu disucikan Kerajaan Mataram Hindu yang dibangun Senna dan Rake Sanjaya!. Lebih tepat menempatkan lereng selatan kaki gunung Dieng sebagai tempat Senna membangun Kerajaan Mataram Hindu dan sebagai basis perjuangan untuk merebut kembali tahta Galuh warisan ayahnya yang lepas dari tangannya. Lagi pula tempat Kunjarakunjadesya, memang lebih tepat bila kita bayangkan terletak di kaki Gunung Dieng, di dekat mata air Serayu.

Setelah berhasil menyeberangi Sungai Citanduy dan Sungai Cijolang, Senna tiba di Dayeuhluhur. Pelarian pun dilanjutkan ke arah timur. Setelah berhari-hari menempuh perjalanan panjang dan sulit, akhirnya Senna dan sejumlah prajurit pengawalnya yang setia, tiba di tepi tempat penyeberangan dari suatu sungai  yang kelak diberinya nama Ciserayu dan penyeberangan Cindaga. 

Kalau kita perhatikan dari penyeberangan Cindaga ke arah timur sampai Sumpiuh, kita akan mulai menjumpai banyak toponim desa atau kota dari bahasa Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa desa-desa itu belum terbentuk pada abad ke-8  M. Karena itu dapat dipastikan arah pelarian setelah berhasil menyeberangi Cindaga, Senna dan prajuritnya belok ke kiri menyusuri pinggir Sungai Serayu terus ke utara sampai bertemu dengan sebuah sungai yang merupakan anak Sungai Serayu yang sangat terkenal dalam Babad Banyumas, yakni sungai Pasinggangan dan anak sungainya, Sungai Banyumas. Tentu saja ketika Senna tiba di tempar pertemuan antara Sungai Pasinggangan dan Sungai Banyumas, kemudian menyeberang ke arah timur dan membangun perkemahan di situ, nama Sungai Banyumas belum dikenal. Sebab toponim banyumas adalah toponim Jawa, bukan toponim Sunda. Sedang pemukiman itu pada awalnya merupakan pemukiman orang-orang Sunda Lembah Serayu. Sungai Pasinggangan pun belum dikenal juga. Pasinggangan adalah nama sungai yang diberikan sehubungan dengan perjuangan Senna, untuk merebut kembali tahta Galuh warisan ayahnya.

Rekontruksi Jejak-Jejak  Pelarian Senna.

Kita dapat dengan mudah melakukan rekonstruksi arah pelarian Senna dengan prajuritnya sampai tiba di Cindaga. Setelah berhasil menyeberangi Citanduy, Senna bergerak ke tenggara sampai tiba di tepi Sungai Cijolang, lalu menyeberang sehingga tiba di Dayeuhluhur. Setelah menyeberang Sungai Cijolang, Senna praktis sudah aman dari  pasukan Bimaraksa yang mengepung dari selatan, karena mereka ada di sebelah barat Citanduy. Senna pun berhasil lolos dari pasukan Purbasora yang datang dari Pasirbatang, karena mereka datang dari arah  timur laut Galuh Kawali.
Dari Dayeuhluhur, Senna terus bergerak ke timur menghindari kemungkinan dikejar musuhnya, sampai tiba di Cukangleuleus. Desa Wanarja dan Desa Madura pada abad ke 8 M, belum dikenal.Dari Cukangleuleus, ada jalan ke kanan menuju Cipari, yang merupakan desa lama. Cipari sebenarnya sudah terbentuk dan menjadi lumbung padi Kerajaan Galuh Kawali. Budaya menanam padi, sudah masuk tanah Pasundan pada abad ke-4 M, mendahului kebudayaan perunggu yang juga sudah masuk ke Jawa dan Bali pada awal  Masehi. Hanya sebagian besar rakyat masih hidup sebagai peladang. Tetapi toponim Cipari, membuktikan bahwa pada abad ke-8, budaya sawah sudah dikenal Kerajaah Galuh Kawali. Tampaknya mustahil Senna yang ahli strategi itu menuju Cipari, karena Cipari akan menuntun mereka kembali ke tepi Citanduy. Padahal tujuan pelarian Senna justru menjauh dari Citanduy. (bersambung).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar