Entri yang Diunggulkan

In Memoriam : Dra.Hj.Sri Aslichah, Srikandi Aisyiyah Kecamatan Kalibagor, Banyumas (02)

Dalam diri Bu Hajjah Sri Aslichah, memang mengalir darah Muhammadiyah dari ayahnya, Bapak Kaswan Abusoli. Ayahnya pada waktu muda adal...

Senin, 04 Januari 2016

Sultan Pasai V, Zaenal Abidin(1383 - 1405 ), (02)

Sejak penaklukan itu, Kerajaan Islam Pasai berstatus vasal dari Kerajaan Majapahit. Tetapi otonomi yang seluas-luasnya tetap diberikan. Bahkan Sultan Ahmad Jamaluddin diampuni dan boleh tetap menduduki singgasananya. Hanya saja tiap tahun harus mengirim utusan dan upeti ke Majapahit sebagai tanda takluk. Beruntung bahwa dari Kerajaan Islam Pasai muncul seorang raja yang mampu menurunkan tiga ulama besar legendaris yakni Syekh Jumadilkubro, Syekh Maulana Ishak dan Syekh Makhdum Ibrahim Asmara. Naskah Tapel Adam, sebuah naskah berbahasa Jawa yang terbit di Pasai menyebutkan bahwa Syekh Jumadilkubro adalah putra Raja Pasai ke-5,  Sultan Zaenal Abidin (1383 -1405 M). Syekh Jumadilkubro mempunyai dua orang putra yang juga menjadi ulama besar. Yang sulung adalah Syekh Maulana Ishak, sedang adiknya, Syekh  Makhdum Ibrahim Asmara.   


Dalam tradisi kronik Jawa, Sultan Zaenal Abidin sering dikacaukan dengan Imam Zaenal Abidin( wafat 716 M) , putra dari Imam Husein( wafat 683 M), cicit Rasulullah saw, lewat Siti Fatimah. Akibat dari kekacauan ini, dalam tradisi kronik Jawa, Syekh Jumadilkubro sering dianggap seorang ulama dari Makkah, keturunan  langsung Nabi saw. Demikian pula Syekh  Makhdum Ibrahim Asmara, sering dianggap sebagai ulama dari Samarkand, karena adanya persamaan bunyi antara Asmara dan  AsSamarkandi.


Informasi dari naskah Tapel Adam itu yang menyatakan bahwa Makhdum Ibrahim Asmara adalah putra Pasai, bukan putra dari Samarkand, sesungguhnya memiliki nilai informasi yang penting, khususnya dalam upaya  menelusuri sejarah para Wali di Jawa.
 

Apalagi secara samar-samar informasi dalam naskah Tapel Adam itu, sejalan dengan informasi dalam Serat Walisana karya Sunan Giri, yang mengungkapkan bahwa  Makhdum Ibrahim Asmara, ayah Sunan Ampel adalah keturunan dari Syekh Jumadilkubro. 


Barangkali silsilah keturunan yang digunakan Serat Walisana untuk melukiskan hubungan kekerabatan antara Syekh Jumadilkubro dan Makhdum Ibrahim Asmara, terlalu umum, hingga pembaca mengira bahwa hubungan kekerabatan  itu amat jauh. Maka pembaca yang kurang teliti akan mencoba mereka-reka, bahwa Syekh Jumadilkubro berasal dari negeri Arab. 


Padahal hubungan kekerabatan antara Syekh Jumadilkubro dan Makhdum Ibrahim Asmara begitu dekat, yakni Syekh Jumadilkubro adalah  ayah Makhdum Ibrahim Asmara, yang berarti kakek Sunan Ampel. Syekh Jumadilkubro juga ayah Maulana Ishak. Dengan demikian antara Maulana Ishak dan Makhdum Ibrahim Asmara adalah kakak beradik. Maka Sunan Ampel adalah kemenakan Maulana Ishak. Maulana Ishak sering dianggap sebagai ayah dari Sunan Giri. Anggapan ini jelas keliru. Maulana Ishak adalah kakek dari Sunan Giri. 


Memang dari dua ulama asal Pasai  itu, yakni Maulana Ishak dan Makhdum Ibrahim Asmara,  telah  diturunkan sejumlah orang wali yang penting di Pulau Jawa, yakni   Sunan Giri, Sunan Gunungjati, Sunan Ngudung Rahmatullah, Sunan Ampel dan Sunan Bonang. Karena itu kita perlu menyelidiki dan membuat rekontruksi  tahun kelahiran Syekh Jumadilkubro, Maulana Ishak dan adiknya  Makhdum Ibrahim Asmara.



  Syekh Jumadilkubro (1370 – 1447 M  )
Ibnu Batuttah menjelaskan dalam kitabnya, bahwa saat dia mengunjungi Pasai yang ke dua kalinya, yakni tahun 1346 M, dia sempat menyaksikan hajat Sultan Muhammad Dzahir menikahkan putranya. Dapat dipastikan putranya itu adalah putra mahkota Ahmad Jamaluddin yang naik tahta pada tahun 1354 M, menggantikan ayahandanya, Sultan Muhammad Dzahir yang wafat.

 Jika kita anggap  kelahiran putra pertama Sultan Ahmad Jamaluddin selang satu tahun dengan tahun pernikahannya, maka kita dapat memperkirakan tahun kelahiran putra mahkota Zaenal Abidin, yakni tahun 1347 M. Bila kita anggap Zaenal Abidin menikah pada usia 20 tahun, karena rata-rata para pangeran di Asia Tenggara menikah pada usia antara 18 – 25 tahun, maka Sultanah Bahiah yang kelak menggantikan Zaenal Abidin lahir sekitar tahun 1368 M, karena tahun 1367 M adalah tahun pernikahan putra mahkota Zaenal Abidin. 

Sultanah Bahiah yang naik tahta pada tahun 1405 M, menggantikan Sultan Zaenal Abidin yang wafat, adalah seorang putri. Dengan demikian Zaenal Abidin tidak punya putra mahkota. Tetapi dari seorang selir, mempunyai putra, yakni  Jumadilkubro. Kita bisa menduga, jarak usia antara Sultanah Bahiah dan adik tirinya Jumadilkubro, tidak akan terlalu jauh. Katakanlah tiga tahun. Berarti Jumadilkubro lahir pada tahun 1370 M.

Banyak orang yang bingung dengan nama Jumadilkubro. Karena dalam kronik lokal yang  ada di Jawa seperti Babad Tanah Jawi, Sejarah Banten dan Babad Cirebon, banyak disebut nama tokoh yang memakai nama Jumadil. Misalnya saja Jumadil Akbar, Jumadil Kabir dan Jumadilkubro. Menurut Dr.Husein Jayadiningrat, sebenarnya nama-nama itu menunjuk pada nama satu orang yang sama yaitu Jumadilkubro. 

Menurut Martin van Bruinssen, kata kubro aneh karena dipakai untuk nama seorang laki-laki. Sebab dalam tata bahasa Arab, kata kubro menunjuk kepada kata feminin. Tetapi bagi Husein Jayadiningrat tidak aneh, karena  arti akbar, kubro ataupun kabir, mengandung arti awal. Jadi Jumadilkubro, Jumadil Akbar dan Jumadil Kabir identik dengan Jumadilawal, yakni nama bulan ke-5 dari nama-nama bulan dalam kalender  Qomariah, baik kalender Hijriyah, maupun kalender Jawa. 

Dari penjelasan Dr.Husein Jayadiningrat, dapat disimpulkan bahwa Jumadillkubro adalah tokoh yang dilahirkan pada bulan Jumadilawal. Sudah jelas bahwa nama Jumadilkubro hanyalah nama panggilan saja. Lalu siapa nama aslinya? 

Martin van Bruinssen menduga bahwa nama asli Jumadilkubro adalah Najamuddin Al Kubro. Martin juga menyebut adanya kisah yang dikembangkan oleh para Sayyid dari Hadramaut yang datang ke Indonesia pada abad-18 M, yang menyebut nama Jamaluddin Husein Al Akbar sebagai leluhur Syekh Jumadilkubro. 

Anehnya, menurut Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Wali Songo, Martin van Bruinssen menuduh bahwa nama Jamaluddin Al Husein itu, hanyalah upaya para Sayyid untuk mengoreksi legenda-legenda Jawa yang menurutnya sudah tepat ( Agus Sunyoto; 2012: 70 ).

Bagaimana mungkin legenda- legenda Jawa dikatakan lebih tepat, padahal di dalamnya  banyak sekali kisah-kisah yang berbau mitos yang  didasarkan atas fantasi para penggubahnya dan sering menyimpang dari fakta sejarah yang sebenarnya? Karenanya kisah-kisah yang berbau mitos dan legenda dalam kronik lokal memang perlu dikritisi agar sesuai dengan fakta dan kejadian sejarah yang sebenarnya.

Kisah dari para Sayyid yang menyatakan bahwa Syekh Jumadilkubro memiliki leluhur yang bernama Jamaluddin Husein al-Akbar, sesungguhnya justru hampir mendekati fakta sejarah. Tokoh yang disebut-sebut sebagai Jamaluddin Husein al-Akbar itu, sebenarnya adalah Sultan Ahmad Jamaluddin( 1354- 1383 M ), Sultan Pasai ke-4, ayah dari Sultan Zaenal Abidin ( 1383 – 1405 M), yang dengan sendirinya adalah kakek dari Syekh Jumadilkubro. 

Karena Syekh Jumadilkubro, seperti telah  disebutkan di atas adalah putra dari Sultan Zaenal Abidin, Sultan Pasai ke-5. Maka dengan demikian memang betul, bahwa Syekh Jumadilkubro punya leluhur, yakni kakeknya yang bernama Sultan Ahmad Jamaluddin (1354 -1383 M). Kakeknya itu adalah  Sultan Pasai, bukan dari Hadramaut ataupun negeri Arab lainnya. 

Martin menduga bahwa nama asli Jumadilkubro adalah Najamuddin al-Kubro. Tetapi yang paling mendekati adalah Ahmad Jamaluddin, karena ayahnya, Zaenal Abidin, yang tidak  punya seorang putra mahkota, tentu berharap agar anak laki-lakinya itu, sekalipun hanya dari seorang selir tetapi dapat mengikuti jejak kakeknya  yaitu Ahmad Jamaluddin.

Dengan demikian nama asli Syekh Jumadilkubro adalah Ahmad Jamaluddin al Kubro, mengikuti nama kakaknya.  Bukan Najamuddin al Kubro.

 Syekh Maulana Ishak (1390 -  1365 M )
 Kita akan melanjutkan penelusuran tahun kelahiran Maulana Ishak dan adiknya,  Makhdum Ibrahim Asmara. Jika kita anggap Jumadilkubro  menikah pada usia 20 tahun, maka pada tahun 1390 M adalah tahun pernikahan Jumadilkubro. Dan anak pertamanya, Maulana Ishak kira-kira akan lahir di sekitar tahun 1390- 1391 M juga. Sedang adiknya Makhdum Ibrahim Asmara, katakanlah lahir tiga atau empat tahun kemudian, berarti Makhdum Ibrahim Asmara lahir di sekitar tahun 1394 M.

Kita lanjutkan dengan Maulana Ishak dan adiknya Makhdum Ibrahim Asmara. Berdasarkan penelusuran Drs. Widji Saksono dalam bukunya Mengislamkan Tanah Jawa yang bersumber dari Serat Walisana, disebutkan bahwa Maulana Ishak punya enam orang putra, berturut-turut dari yang tertua yakni (1)Sayyid Es, (2)Syekh Jakub, (3)Syekh Waliyul Islam, (4)Syekh Kusein, (5)Syekh Maghribi dan (6)Syekh Gharibi.

Pada tahun 1428  M, Maulana Ishak sudah berusia 38 tahun. Andaikata dia menikah juga pada usia 20 tahun, maka pada tahun 1428 M, setelah lima belas tahun berumahtangga akan punya enam anak. Bila jarak kelahiran ke enam putranya itu rata-rata tiga tahun, maka kita bisa memperkirakan tahun-tahun kelahiran ke enam putra Maulana Ishak itu. Yakni, (1) Sayyid Es lahir sekitar tahun 1411 M, (2) Syekh Yakub lahir sekitar tahun 1414 M,  (3)Syekh Waliyul Islam lahir sekitar tahun 1417 M, (4)Syekh Kusen lahir sekitar tahun 1420 M, (5)Syekh Maghribi lahir sekitar tahun 1423 M. Dan akhirnya si bungsu (6) Syekh Gharibi akan lahir sekitar tahun 1426 M.  

Ketiga putra tertua Syekh Maulana Ishak ini pada sekitar tahun 1450 M, saat usia mereka antara 30-39 tahun,  hijrah ke Jawa dalam rangka melaksanakan dakwah Islam ke wilayah Kerajaan Majapahit di Jawa Timur dan Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat. Sayyid Es ke Cirebon, Syekh Yakub bin Maulana Ishak ke Gresik dan Syekh Waliyul Islam ke Pasuruan. Mereka semua akhirnya menikah dengan wanita bangsawan pribumi putri para penguasa daerah setempat. Dan Syekh Kusen, putra Syekh Maulana Ishak yang ke empat, pada tahun 1455 M, menyusul kakaknya hijrah  pula ke Jawa.

 Kemudian menyeberang ke Madura dan berdakwah di sana. Akhirnya Syekh Kusen berhasil pula menyunting putri penguasa setempat. Dari perkawinannya dengan putri Madura itu, Syekh Kusen  dikaruniai beberapa putra dan putri. Salah seorang putranya yang kelak menonjol mengikuti jejak kakeknya adalah Syekh Sabil. Dia diperkirakan lahir tahun 1470 M. Syekh Sabil pergi berguru ke Malaka, kemungkinan besar juga ke Pasai, negeri leluhurnya, kemudian kembali ke Jawa dan menetap di Jepara. Kelak dikenal sebagai Sunan Ngudung Rahmatullah.

Putra Syekh Maulana Ishak yang ke-5 Syekh Maghribi akhirnya menyusul kakaknya juga Sayyid Es, bermukim di Muarajati, kemudian bermukim di daerah Pemalang yang berada di lereng utara Gunung Slamet. Syekh Maghribi akhirnya menikah dengan gadis pribumi juga dan mendirikan pesantren di Banjarcahyana, sebelah tenggara Gunung Slamet.

Kemudian putra bungsu Syekh Maulana Ishak, Syekh Gharibi, mengikuti tradisi kakak-kakaknya menuju Jawa Barat, akhirnya bermukim di Banten.

Sementara itu, putra tertua Syekh Maulana Ishak, Sayyid Es yang hijrah ke Cirebon berusia sekitar 39 tahun. Dalam tradisi lokal Cirebon dan Jawa Barat, Sayyid Es ini dikenal sebagai Syekh Nurjati, pendiri Pesantren Gunungjati. Syekh Nurjati kelak menurunkan Sayyid Zen Abdul Qodir yang dalam tradisi lokal dikenal dengan Syarif Hidayatulah atau Sunan Gunungjati I atau Sunan Gunungjati Sepuh.

Memang agak aneh, bahwa putra tertua Syekh Maulana Ishak itu bergelar sayyid. Padahal biasanya para ksatria Pasai itu bergelar makhdum, yang merupakan gelar para bangsawan Kerajaan Islam Delhi. Sayyid sendiri adalah gelar kebangsawanan Arab yang biasanya dinisbatkan kepada keturunan Nabi saw lewat cucu Nabi saw yakni Husein ra. Rupanya putra tertua Syekh Maulana Ishak itu, lebih suka mengambil gelar sayyid yang lebih berwarna Arab dari pada gelar makhdum yang lebih berwarna India. Kelak putra Sayyid Es, yakni Sayyid Zen Abdul Qodir, setelah naik haji, mengambil gelar syarif, yang merupakan gelar bangsawan Arab keturunan Nabi saw juga, tetapi lewat jalur cucu Nabi saw, yakni Hasan ra. Gelar Sayyid Zen Abdul Qodir, setelah naik haji adalah Syarif Hidayatullah yang kelak dikenal sebagai Sunan Gunungjati I.

Syekh Yakub, putra kedua Maulana Ishak,  menurunkan Raden Paku atau Sunan Giri dan Syekh Husein atau Syekh Kusen, menurunkan Sunan Ngudung Rahmatullah dan cucunya, Sunan Kudus Ja’far Shodiq.
(Sumber gambar Wikipedia)

Makhdum Ibrahim Asmara(1394 -1446 M)

 Bagaimana dengan adik Maulana Ishak, Makhdum Ibrahim Asmara? Dia diperkirakan   baru menikah pada tahun 1416 M dengan Dyah Candrawulan Putri kedua Raja Campa Jaya Simhawarman III yang dalam Serat Walisana disebut Raja Kiyan. Putri pertamanya Dyah Dwarawati menikah dengan Sri Kertawijaya, calon Putra Mahkota Kerajaan Majapahit yang menikah pada tahun 1415 M.
 Makhdum Ibrahim Asmara, punya dua putra, yang pertama Raden Santri, lahir sekitar tahun 1417 M, sedang adiknya Raden Rahmat, kelak menjadi Sunan Ampel, lahir sekitar tahun 1420 M.

Di telinga orang Jawa, mungkin  nama Ibrahim Asmara terdengar aneh. Karena kata asmara lazimnya digunakan untuk perempuan. Karena itu banyak orang yang menduga kata Asmara dibelakang nama Ibrahim adalah salah ucap dari kata Samarkand, sebuah kota di Uzbekistan, Asia Tengah. Menurut mereka nama yang seharusnya adalah Ibrahim As Samarkandi. Diucapkan dalam lidah Jawa menjadi  Ibrahim Asmoro Qondi. Benarkah anggapan itu ?

Sebenarnya dengan mengetahui bahwa di depan nama Ibrahim Asmara terdapat gelar Makhdum,  kita  dengan mudah dapat menduga bahwa Ibrahim Asmara adalah seorang pendakwah yang berasal dari Kerajaan Islam Samudra Pasai. Karena gelar Makhdum merupakan gelar tradisi para pangeran dari Kerajaan Islam Pasai.

 Dengan demikian Ibrahim Asmara  adalah salah seorang pangeran dari Samudra Pasai. Bukan dari Samarkand atau Tyulen. Ada sejumlah kemungkinan yang dapat menjelaskan asal muasal  kata Asmara  selain yang diduga sebagai perubahan dari kata As Samarkandi. 

Kemungkinan pertama  sebelum tinggal di Campa, dia  bernama Makhdum Maulana Ibrahim, karena kakaknya bernama Makhdum Maulana Ishak. Jadi ada kesejajaran antara nama dirinya dengan nama kakaknya. Saat tinggal di Campa, komunitas pedagang muslim yang tinggal di Campa juga cukup banyak. Di antara  mereka tentu banyak yang bernama  Ibrahim.

 Untuk membedakannya dengan Ibrahim-Ibrahim yang lain, Makhdum Maulana Ibrahim menambahkan kata  Samudra di belakang namanya. Jadilah dia bernama Makhdum Maulana Ibrahim As Samudrani. Lama kelamaan orang lebih senang menyebutnya sebagai Ibrahim As Sumatrani. Kemudian   kata  As Sumatrani, berubah menjadi Asmarani. Hasil kontraksi  terakhir, dari Asmarani, berubah menjadi Asmara. Jadilah dia disebut oleh masyarakat sebagai Ibrahim Asmara. Dan nama terakhir ini lebih populer dimasyarakatnya. Bukankah kata Samudra  memang juga telah berubah menjadi Sumatra?

 Bisa jadi pernah pula  terpikirkan olehnya untuk memilih  kata Pasai, dari pada Samudra, sehingga namanya menjadi Ibrahim Al Pasai. Tetapi kata Pasai punya konotasi kurang baik, konon ia bermakna binatang berkaki empat yang dalam dalam Mashab Safii dianggap najis. Sedang Samudra mempunyai makna lebih positip, yakni semut besar.

Kemungkinan kedua memang  sejak lahir dia memang sudah menyandang nama Asmara dibelakang namanya. Bukankah bahasa Melayu juga mengenal kosa kata asmara yang bisa saja berarti yang terkasih atau tersayang. Bisa jadi dia adalah seorang  lelaki yang memang sangat  diharap-harapkan kehadirannya dalam keluarganya, setelah kelahiran kakak sulungnya yang juga seorang laki-laki. Tradisi  kerajaan Melayu, sangat mengharapkan lahirnya anak laki-laki di tengah-tengah keluarganya. Jadi tidak ada yang aneh dalam penggunaan nama  Asmara di belakang kata Ibrahim, karena ia mengandung arti yang tersayang atau yang terkasih.

Kemungkinan ketiga, istri  Makhdum Maulana Ibrahim yang putri  Raja Campa mempunyai sejumlah nama. Selain  Dyah  Candra Wulan, dia juga bernama Rara Sucina, juga bernama Dyah Retna Siti Asmara. Dyah Retna Siti Asmara, juga cantik, bahkan melebihi kecantikan kakaknya Dyah Dwarati yang menjadi istri Raja Majapahit. Jadi Ibrahim Asmara bisa berarti Ibrahim yang beristrikan Dyah Retna Siti Asmara, putri Raja Campa yang dikisahkan kecantikannya dapat berubah dalam sehari sebanyak tujuh kali. 

Dari sejumlah kemungkinan di atas, akan lebih mendekati fakta sejarah, bila menetapkan Ibrahim Asmara, ayah Raden Rahmat adalah putra Pasai, dari pada menganggapnya sebagai pendakwah dari Samarkand. Atau lebih-lebih dari  Tyulen. Menetapkan Ibrahim Asmara  sebagai pendakwah yang berasal dari Samarkand ataupun Tyulen, disamping kurang mendekati fakta sejarah, juga terlalu kental kandungan unsur mitosnya.

 Dengan kata lain anggapan bahwa Ibrahim Asmara adalah seorang pendakwah dari Samarkand ataupun Tyulen, hanyalah sebuah mitos yang tidak berdasar, spekulatip, dan hanya dicari-cari  dan ditemukan secara tidak sengaja. Informasi dalam naskah Tapel Adam bahwa Ibrahim Asmara putra Pasai, amat layak untuk dipercaya sebagai fakta sejarah.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar